HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KECERDASAN, MOTIVASI BERPRESTASI, DAN KEBIASAAN BELAJAR MATEMATIKA SISWA DENGAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA

This item was filled under [ Pendidikan Matematika ]
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 4.9/5 (38 votes cast)

Skripsi Jurusan Pendidikan Matematika :HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KECERDASAN, MOTIVASI BERPRESTASI, DAN KEBIASAAN BELAJAR MATEMATIKA SISWA DENGAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA (SISWA SEMESTER 1 KELAS XI IPA A SMA NEGERI 6 KOTA BENGKULU) .


Oleh :
MULYANI
A1C002030
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BENGKULU

Berdasarkan UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,

pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar

dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi

dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri,

kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,

masyarakat, bangsa dan negara (Anonim, 2003: 3).

Penyempurnaan kurikulum harus mengacu pada undang-undang tersebut.

Kurikulum 2004 bertujuan untuk mewujudkan peningkatan mutu dan relevansi

pendidikan yang dilakukan secara menyeluruh mencakup pengembangan dimensi

manusia Indonesia seutuhnya. Dalam kurikulum ini diberlakukan standar nasional

pendidikan yang berkenaan dengan standar isi, proses dan kompetensi lulusan

(Depdiknas, 2003: 3).

Matematika disebut sebagai ratunya ilmu. Jadi matematika merupakan kunci

utama dari pengetahuan-pengetahuan lain yang dipelajari di sekolah. Tujuan dari

pendidikan matematika pada jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah

menekankan pada penataan nalar dan pembentukan kepribadian (sikap) siswa agar

dapat menerapkan atau menggunakan matematika dalam kehidupannya (Soedjadi,

2000: 42). Dengan demikian matematika menjadi mata pelajaran yang sangat

penting dalam pendidikan dan wajib dipelajari pada setiap jenjang pendidikan.

Setiap individu mempunyai pandangan yang berbeda tentang pelajaran

matematika. Ada yang memandang matematika sebagai mata pelajaran yang

menyenangkan dan ada juga yang memandang matematika sebagai pelajaran yang

sulit. Bagi yang menganggap matematika menyenangkan maka akan tumbuh

motivasi dalam diri individu tersebut untuk mempelajari matematika dan optimis

dalam menyelesaikan masalah-masalah yang bersifat menantang dalam pelajaran

matematika. Sebaliknya, bagi yang menganggap matematika sebagai pelajaran yang

sulit, maka individu tersebut akan bersikap pesimis dalam menyelesaikan masalah

matematika dan kurang termotivasi untuk mempelajarinya. Sikap-sikap tersebut

tentunya akan mempengaruhi hasil yang akan mereka capai dalam belajar.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa yaitu faktor

internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi intelegensi, motivasi,

kebiasaan, kecemasan, minat, dan sebagainya. Sedangkan faktor eksternal meliputi

lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, keadaan sosial

ekonomi, dan sebagainya (Ahmadi dan Supriyono, 2004: 138).

Dalam penelitian ini, peneliti memfokuskan tentang kaitan beberapa faktor

internal pada diri siswa dengan hasil yang dicapai oleh siswa. Faktor-faktor internal

tersebut diantaranya adalah faktor intelektif yaitu kecerdasan siswa dan faktor non

intelektif yaitu motivasi berprestasi dan kebiasaan belajar siswa.

Faktor intelektif (kecerdasan) mempunyai pengaruh yang cukup jelas dalam

hal pencapaian hasil belajar. Seseorang yang memiliki tingkat kecerdasan yang

relatif tinggi cenderung lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan

seseorang yang memiliki tingkat kecerdasan yang relatif rendah. Namun demikian,

faktor kecerdasan bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan prestasi yang

akan dicapai siswa.

Faktor non intelektif diantaranya adalah motivasi dan kebiasaan. Motivasi

merupakan faktor yang sangat penting dalam proses belajar guna mencapai prestasi

yang diharapkan. Ini dikarenakan motivasi merupakan pendorong dan penggerak

individu yang dapat menimbulkan dan memberikan arah bagi individu untuk

melakukan aktivitas-aktivitas tertentu untuk mencapai tujuannya. Standar nilai baik

nilai ketuntasan belajar maupun kelulusan yang ditetapkan secara nasional yang

harus dicapai oleh siswa dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar dan

berprestasi. Serta membuat siswa tertuntut untuk mengubah kebiasaan belajarnya

ke arah yang lebih baik.

Kebiasaan belajar merupakan pola belajar yang ada pada diri siswa yang

bersifat teratur dan otomatis. Kebiasaan bukanlah bawaan sejak lahir, melainkan

kebiasaan itu dapat dibentuk oleh siswa sendiri serta lingkungan pendukungnya.

Suatu tuntutan atau tekad serta cita-cita yang ingin dicapai dapat mendorong

seseorang untuk membiasakan dirinya melakukan sesuatu agar apa yang

diinginkannya tercapai dengan baik. Kebiasaan belajar yang baik akan dapat

meningkatkan prestasi belajar siswa, sebaliknya kebiasaan belajar yang tidak baik

cenderung menyebabkan prestasi belajar siswa menjadi rendah.

Berdasarkan hasil wawancara dengan salah seorang guru bidang studi

matematika, motivasi siswa kelas X pada tahun ajaran 2005/2006 yang sekarang menjadi kelas XI pada tahun ajaran 2006/2007 dalam belajar matematika secara

umum relatif rendah. Hal ini terlihat dalam hal pengerjaan tugas, jika tidak ada

konsekuensi tugas harus dikumpul maka hanya sebagian kecil saja siswa yang

mengerjakan tugas tersebut. Keadaan tersebut menjadi kebiasaan yang kurang baik

pada diri siswa dalam belajar. Pada kegiatan proses belajar mengajar motivasi siswa

cenderung meningkat apabila mereka diminta mengerjakan tugas yang mereka bisa,

namun akan terjadi hal sebaliknya bila tugas yang diberikan terasa sulit. Adapun

respon siswa dalam kegiatan belajar mengajar tergantung dengan metode yang

digunakan oleh guru. Sementara itu, hasil ujian blok bersama yang diadakan pada

akhir tahun ajaran 2005/2006 menunjukkan tentang ketuntasan belajar matematika

siswa yaitu 70% dari siswa kelas X tahun ajaran 2005/2006 tuntas dan 30% belum

tuntas, sedangkan kriteria keberhasilan adalah 85 % siswa tuntas dalam belajar.

Dari uraian di atas, maka penulis tertarik mengadakan penelitian tentang

‘Hubungan Antara Tingkat Kecerdasan, Motivasi Berprestasi dan Kebiasaan

Belajar Matematika Siswa dengan Prestasi Belajar Matematika Siswa Semester

1 Kelas XI IPA A SMA Negeri 6 Kota Bengkulu’.

Untuk mendownload silkaan klik link di bawah ini

Download di sini

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KECERDASAN, MOTIVASI BERPRESTASI, DAN KEBIASAAN BELAJAR MATEMATIKA SISWA DENGAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA, 4.9 out of 5 based on 38 ratings
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Copyright Notice: Skripsi-skripsi yang dipublikasikan di Pustakaskripsi.com adalah skripsi dengan lisensi boleh dipublikasikan dengan pernyataan Copyright sebagai berikut:
Copyrights : Copyright (c) <Universitas Penerbit>. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Jika anda adalah penulis atau penerbit skripsi ini dan merasa tidak menerbitkan lisensi tersebut, dan merasa keberatan skripsi anda dipublikasikan, silahkan menghubungi admin di admin [at] pustakaskripsi.com. Kami akan dengan senang hati meng-unpublish Skripsi anda.

Sebarkan Ilmu walaupun hanya satu Ayat. Ilmu yang kau bagikan kepada orang lain maka akan semakin bertambah dan berkah.

One Comment on “HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KECERDASAN, MOTIVASI BERPRESTASI, DAN KEBIASAAN BELAJAR MATEMATIKA SISWA DENGAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA”

  • syarifah syam
    3 June, 2010, 7:07

    kenapa tidak ada skripsi PTK??

Leave a Comment

Receive all updates via Facebook. Just Click the Like Button Below

Powered By Blogger Widgets