MADH DAN Z|AMM DALAM AL-QUR’AN (Tinjauan terhadap Tujuan Madh} dan Z|amm dalam Al-Qur’a>n)

This item was filled under [ Tafsir Hadis ]
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 5.0/5 (24 votes cast)

Skripsi Tafsir Hadis : MADH DAN ZAMM  DALAM  AL-QUR’AN (Tinjauan terhadap Tujuan Madh dan Zamm dalam Al-Qur’an)

Al-Qur’a>n adalah kitab suci umat Islam yang mempunyai nilai ija>z yang abadi dari berbagai aspeknya, baik tasyri>iy, lugawy maupun ‘ilmy,[1] dan pada saat yang sama ia juga sebagai hudan lin-na>s. Maka al-Qur’a>n dengan keistimewaannya itu mampu berdialog dengan seluruh manusia sepanjang masa dan mengandung pesan-pesan serta solusi-solusi global terhadap problematika kehidupan, baik secara z}a>hir maupun ba>t}in, tersurat maupun tersirat.[2]

Al-Qur’a>n diturunkan Allah SWT dengan memakai bahasa Arab, karena memang Nabi Muh}ammad hidup di sana. Bahasa sebagai simbol realitas  yang bersifat arbritrer pada dasarnya dibentuk dan membentuk konsep yang dipegang masyarakat  pemakainya dalam menyikapi  dan memaknai dunia riil, baik melalui ciri gramatik maupun  klasifikasi semantik yang  dikandungnya.[3] Maka al-Qur’a>n juga mengikuti kaidah-kaidah bahasa konvensional, namun juga memberikan gaya bahasa tersendiri yang belum pernah dipakai pada saat itu.

Di  samping  itu  sebagai   gejala   bahasa, bahasa   bersifat dinamis, tumbuh dan berkembang sejalan dengan meningkatnya  kemajemukan persepsi manusia terhadap makrokosmos dan mikrokosmos.[4] Oleh karena itu makna sebuah leksem  kadang-kadang mengalami perubahan  (baik dari makna sempit menjadi luas atau sebaliknya, bahkan hilang maknanya atau berubah sama sekali) dan  kadang-kadang tetap.[5] Hal ini tergantung  konteks dan aspek-aspek sosial  yang melatarbelakanginya.  Oleh karena itulah     konteks  sangat menentukan makna dan mengabaikannya  akan menghasilkan  kesimpulan yang keliru, dengan demikian  memahami makna suatu kata harus meneliti pemakaiannya dalam struktur kalimat yang berbeda-beda dan konteks yang berbeda-beda pula.

Al-Qur’a>n merupakan sistem bahasa yang mempunyai spesifikasi tersendiri yang tidak dimiliki oleh bahasa lainnya. Al-Qur’a>n mempunyai gaya bahasa yang mengandung i’ja>z, sehingga dapat mempengaruhi hati manusia. Dengan pengaruh ini, mausia diharapkan mengikuti yang baik yang diserukannya dan meninggalkan yang buruk yang diperintahkannya untuk dijauhi.

Di antara gaya bahasa al-Qur’a>n itu adalah pemakaian madh} (pujian) dan z\amm (celaan). Ada beberapa cara yang dipakai al-Qur’a>n untuk memuji yang secara global dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:

  1. Madh} secara langsung, yaitu memuji dengan memakai kata-kata yang mempunyai arti memuji, seperti al-hamdu, nima dan lain sebagainya.

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ[6]

“Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”[7]

Allah dalam ayat di atas memuji Z|at-Nya sendiri, hal ini untuk menunjukkan keagungan-Nya dan juga untuk mengajarkan manusia agar memuji-Nya. Allah SWT juga berfirman:

وَاِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمُوْآ اَنَّ اللهَ مَوْلاَكُمْ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ[8]

“Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwasanya Allah pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”[9]

  1. Madh} dengan menggunakan kata-kata yang tidak berarti memuji, namun setelah digabungkan menjadi satu kesatuan dalam sebuah kalimat, maka mengandung persepsi memuji, seperti firman Allah SWT:
وَاِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ[10]

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”[11]

Dengan gaya bahasa seperti dalam ayat ini, Allah SWT memuji rasul-Nya Muh}ammad, bahwa ia merupakan sosok yang berada di atas moral yang luhur. Allah juga berfirman:

سُبْحَانَ الَّذِىْ اَسْرَىبِعَبْدِهِ لَيْلاً مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ اْلاَقْصَى[12]

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari masjidil-h}ara>m ke al-aqs}a.”[13]

Dalam ayat di atas Allah SWT memuji Z|at-Nya dengan menunjukkan sebagian sifat-Nya, yaitu Maha Suci. Statemen ini ditegaskan sebelum statemen misi inti untuk memberi penegasan dan warning, bahwa hal yang akan disampaikan merupakan sesuatu yang besar dan agung yang dalam konteks ini adalah isra’ Nabi Muh}ammad SAW.

Demikian pula dengan z\amm, ada beberapa cara yang dipakai al-Qur’a>n untuk mencela yang secara global dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:

  1. Z|amm dengan secara langsung, yakni mencela dengan menggunakan kata-kata yang mengandung arti celaan, seperti bi’sa, sa>’a dan z\amm, seperti firman Allah:

وَلاَ تَلْمِزُوْآ اَنْفُسَكُمْ وَلاَ تَنَابَزُوْا بِاْلاَلْقَابِ، بِئْسَ اْلاِسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ اْلاِيْمَانِ[14]

“Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman.”[15]

Bi’sa dalam ayat di atas untuk mencela perbuatan fusq, bahwa setelah orang beriman, maka perbuatan yang paling buruk adalah perbuatan fusq, yakni perbuatan maksiat kepada Allah SWT, maka tidak boleh memanggil seorang mukmin dengan fasik dan yang semakna dengannya.

وَالَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ رِئَآءَ النَّاسِ وَلاَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَلاَ بِالْيَوْمِ اْلآخِرِ، وَمَنْ يَكُنِ الشَّيْطَانُ لَهُ قَرِيْنًا فَسَآءَ قَرِيْنًا[16]

“Dan juga orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya’ kepada manusia, dan orang-orang yang tidakberiman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya.”[17]

Sa>’a dalam ayat di atas berarti buruk, yakni syaitan adalah seburuk-buruk teman bagi seseorang.

2.  Z|amm dengan menggunakan kata-kata yang tidak berarti mencela, namun setelah digabungkan menjadi satu kesatuan dalam sebuah kalimat, maka mengandung persepsi mencela, seperti firman Allah SWT:

اَفَمَنْ يُلْقَى فِى النَّارِ خَيْرٌ اَمْ مَنْ يَاْتِىْ آمِنًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ[18]

“Maka apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka lebih baik ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada hari kiamat?”[19]

Dalam ayat di atas Allah SWT mempertanyakan suatu perbandingan antara orang yang dilemparkan ke dalam neraka dengan orang yang aman sentosa dengan masuk surga. Apakah orang yang dilemparkan ke dalam neraka itu lebih baik? Semua orang pasti mengerti, bahwa orang yang dilemparkan ke dalam neraka itu lebih buruk dan lebih celaka. Namun kenapa dipertanyakan? Pertanyaan ini tidak membutuhkan jawaban, tetapi untuk mubalaghah dalam mencela ahli neraka.

Gaya bahasa Madh} dan z\amm mempunyai tujuan tertentu. Di antara tujuan Madh} adalah ta’dib (pengajaran), maka Allah SWT memuji seseorang, amal tertentu, akhlak tertentu, atau bahkan Dia memuji Z|at-Nya, hal ini sebagai pengajaran kemudian hamba-Nya agar menghisi diri dengan sifat sesuatu yang dipuji. Dan di antara tujuan z\amm adalah menghinakan, yakni Allah SWT merendahkan orang yang menyimpang dari syari‘at yang di bawa Rasul dan juga memberi peringatan, bahwa yang di cela itu merupakan amal perbuatan yang harus dihindari.

Di samping itu obyek yang menjadi pujian dan celaan juga bervariasi yang menyangkut sifat, sikap dan tindakan manusia, juga sifat-sifat Allah SWT. Demikian pula tujuan dari penggunaan Madh} dan z\amm juga bervariasi, ada yang bertujuan untuk memberi pelajaran kepada manusia, memberi peringatan terhadap suatu perbuatan yang buruk dan lain sebagainya. Penelitian ini berusaha mengungkap secara kritis mengenai Madh} dan z\amm, baik dari dari segi bentuk-bentuknya maupun tujuannya.

Untuk mendownload silakan klik link di bawah ini

Download di sini

MADH DAN Z|AMM DALAM AL-QUR’AN (Tinjauan terhadap Tujuan Madh} dan Z|amm dalam Al-Qur’a>n) , 5.0 out of 5 based on 24 ratings
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Copyright Notice: Skripsi-skripsi yang dipublikasikan di Pustakaskripsi.com adalah skripsi dengan lisensi boleh dipublikasikan dengan pernyataan Copyright sebagai berikut:
Copyrights : Copyright (c) <Universitas Penerbit>. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Jika anda adalah penulis atau penerbit skripsi ini dan merasa tidak menerbitkan lisensi tersebut, dan merasa keberatan skripsi anda dipublikasikan, silahkan menghubungi admin di admin [at] pustakaskripsi.com. Kami akan dengan senang hati meng-unpublish Skripsi anda.

Sebarkan Ilmu walaupun hanya satu Ayat. Ilmu yang kau bagikan kepada orang lain maka akan semakin bertambah dan berkah.

Leave a Comment

Receive all updates via Facebook. Just Click the Like Button Below

Powered By Blogger Widgets