Nilai-nilai Edukatif Dalam Hadīs Nabi SAW (Studi Analisis Terhadap Hadīs Tentang Ażān di Telinga Bayi yang Baru Lahir)

This item was filled under [ Pendidikan Agama Islam ]
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 4.9/5 (48 votes cast)

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Hadīs yang merupakan sumber hukum Islam kedua setelah al-Qur’an,
sangat penting bagi umat Islam sebagai pedoman dalam melaksanakan ajaranajaran
Islam. Allah telah mengisyaratkan kepada umat Islam agar mereka
melaksanakan Sunnah Nabi SAW sebagai mana mereka mengamalkan al-
Qur’an, karena keduanya merupakan satu kesatuan.1
Firman Allah :
( .ْ.. وَمَا آتَاآُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاآُ مْ عَنْهُ فَانْتَهُوا …(الحشر: 7
… Apa yang diberikan oleh rasul kepadamu, maka hendaklah kamu
menerimanya dan apa yang dilarangnya bagimu, maka hendaklah
kamu meninggalkannya (apa yang dilarangnya itu) …(Q.S. al-hasyr :
7)2
Ayat tersebut di atas menyiratkan bahwa perintah Rasul harus
dilaksanakan dan apapun yang dilarang oleh rasul maka hendaknya
ditinggalkan, yang tentunya segala perintah dan larangan itu ada dalam hadīs
Nabi.
Ada pula beberapa ayat yang menerangkan tentang ketaatan kepada
Rasul diantaranya :
قُلْ أَطِيْعُوا اللهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْكَافِرِينَ (آل
( عمران: 32
Katakanlah :” Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika engkau berpaling,
maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir (Q.S. Ali
Imran : 32) 3
1 Muzir Suparta dan Utang Ranu Wijaya, Ilmu Hadits , (Jakarta : RajaGrafindo Persada,
1996), cet. II, hlm. 10.
2 R.H.A. Soenarjo, dkk., Al-Qur’an al-Karim wa Tarjamatu Ma’anihi ila al Lughah al
Indunisia (al-Qur’an dan Terjemahnya), (Madinah al-Munawwarah : Mujamma’ Malik Fahd li
Thiba’at al-Mushhaf asy Syarif, 1418 H.), hlm. 916.
3 Ibid., hlm. 80
2
Ayat diatas mengandung perintah untuk taat kepada Allah dan Rasul-
Nya yang bisa kita artikan bahwa taat kepada Allah adalah dengan
melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan Allah yang tersurat dalam
al Qur’an, sedangkan taat kepada Rasulullah adalah melaksanakan perintah
dan larangannya yang terdapat dalam hadīs Nabi.
Nabi Muhammad SAW sebagai guru terbesar bagi umat Islam
mempunyai perhatian yang sangat besar dan khusus terhadap pendidikan
meski kita tahu bahwa semua hadīs Nabi diantara tujuannya adalah
mengajarkan dan memberikan pengetahuan kepada seluruh umatnya.
Secara umum Hadīs Nabi menuntun kita untuk menjadi hamba Allah
yang taqwa dengan mengamalkan semua perintah dan meninggalkan larangan-
Nya yang diharapkan kita menjadi orang yang fi al-dunya hasanah wa fi alakhirati
hasanah. Untuk menjadikan insan yang bertakwa itu tentunya
dibutuhkan pendidikan sejak dini bagi anak agar bisa tumbuh sesuai dengan
harapan agama yang disebut dengan anak sholeh.
Anak sholeh merupakan tuntunan agama yang juga menjadi harapan
setiap orang tua tetapi tidaklah mudah untuk meraihnya, karena orang tua
sebagai fist school dianjurkan mampu memotivasi perkembangan anak secara
total yang mencakup fisik, emosi, intelektual dan religius-spiritual ; bahwa
perkembangan intelektual senantiasa dibarengi dan seirama dengan
perkembangan religius adalah suatu keniscayaan dalam pendidikan islam4,
sehingga dalam mengukirnya sesuai dengan ajaran agama agar terbentuk
generasi yang setabil dalam mengarungi kehidupan dunia dan akhirnya
selamat sampai kehidupan di akhirat nanti.
Sudah menjadi keharusan bahwa pendidikan terhadap anak merupakan
tanggung jawab orang tua sepenuhnya karena pada dasarnya anak lahir dalam
keadaan fitrah sebagaimana sabda Nabi :
4 Abdurrahman Mas’ud, “Azan Di Telinga Anak”, dalam Nurcholish Madjid, dkk., Puasa
Titian Menuju Rayyan, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2000), cet. I, hlm. 109.
3
حَدَثَنَا حَاجِبُ بْنُ الوَلِيْ دِ. حَدَثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَرْبٍ عَنِ الزُّبَيْدِ يِّ, عَنِ
الزُّهْرِيِّ. اَخْبَرَنِيْ سَعِيْدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ : اَنَّهُ آَانَ يَقُوْلُ :
مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ اِلاَّ يُ وْلَدُ عَلى الْفِطْرَ ةِ. فَأَبَوَاهُ : ρ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ
يُهَوِّدَانِهِ وَ يُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ (رواه مسلم) 5
Dari Abu Hurairah r.a. berkata :Rasulullah SAW bersabda : Tiada
seorang anakpun yang lahir kecuali ia dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka
kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia beragama Yahudi, Nasrani dan
Majusi.
Hadīs tersebut jelas menyebutkan bahwa setiap anak terlahir dalam
keadaan fitrah, polos bagai kain kanvas putih yang akan dapat dengan mudah
dicoreti tinta warna apapun dan dengan bentuk gambar bagaimanapun
sehingga orang tua akan dapat dengan mudah melukiskan dengan corak,
warna dan model yang sesuai dengan kehendaknya, dalam hal ini seakan
Rasulullah memberikan otoritas penuh kepada orang tua tanpa adanya campur
tangan dari pihak lain sampai Rasulullah mengungkapkan bahwa anak (dari
orang muslim) tergantung atas orang tuanya yang mau membentuknya sebagai
generasi Yahudi, Nasrani ataupun Majusi.
Begitu besar tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anak sejak
dini agar kelak besar nanti anak tidak menempuh jalan yang sesat, diantara
pendidikan terhadap anak sejak awal ini Rasulullah SAW memberikan
suritauladan dengan sebuah hadīs yang diriwayatkan oleh Abu Daud :
حَدَثَنَا مسَدَّدْ ثَنَا يَحْيَ عَنْ سُفْيَانَ قَالَ حَدَثَنِيْ عَاصِمُ بْنُ عُبَيْدِ اللهِ عَنْ
أَذَّنَ فِيْ اُذُنِ ρ عُبَيْدِاللهِ بْنِ اَبِيْ رَافِعِ عَنْ اَبِيْهِ قَالَ : رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ
الْحَسَنِ بْنِ عَلِيِّ حِيْنَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلاَةِ (رواه ابو داود) 6
(Abu Dawud berkata) : Musaddad telah menyampaikan suatu hadīs
kepada kami, (Musaddad berkata) : Yahya telah menyampaikan hadīs tersebut
kepada kami dari Sufyan, (Sufyan) berkata : ‘Ashim bin ‘Ubaidillah
menyampaikan hadīs kepadaku dari ‘Ubaidillah bin Abi Rafi’ dari bapaknya,
5 Imam Abi al Husain Muslim bin al Hajjaaj al Qusairy al Naisabury, Shahih Muslim, Juz
II, (Bairut : Dar al Kutub al Ilmiyyah, t.t.), hlm. 458..
6 Imam Abi Dawud Sulaiman Ibn al Asy’aś al Sijistany al Azdy, Sunan Abi Daud, Jus III
(Bairut : Dar al kutub al ‘Ilmiyyah, t.t.), hlm. 333.
4
dia (Abi Rafi’) berkata : “Saya telah melihat Rasulullah SAW
mengumandangkan ażān pada telinga al Hasan bin Ali ketika Fathimah
melahirkannya, dengan ażān shalat”
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Sri Mufarida
(Mahasiswa Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo) dalam skripsinya yang
berjudul Kualitas Hadiś tentang Ażan pada Telinga Bayi yang Baru Lahir,
dinyatakan bahwa ditemukan tiga riwayat hadīs tersebut melalui Ahmad bin
Hambal, Al-Tirmidzi dan Abu Daud, dan semuanya melalui satu periwayat
yang da’īf yaitu ‘Ashim bin ‘Ubaidillah, sehingga bila dipandang dari segi
riwayatnya hadīs ini termasuk hadīs yang da’īf, tetapi secara matan hadīs ini
bukanlah termasuk hadīs yang da’īf karena dari segi kandungan matanya tidak
bertentangan dengan al-Qur’an dan tidak bertentangan dengan akal sehat.7
Melihat dari kualitas hadīs yang lemah dalam hal sanad tetapi dari segi
matanya tidak termasuk hadīs yang bertentangan dengan ketentuan al-Qur’an
dan tidak bertentangan dengan akal sehat maka secara hukum hadīs ini tidak
wajib dilaksanakan.
Tentang pelaksanaan hadīs da’īf ada sebagian ulama yang melarang
penggunaan hadīs da’īf, tetapi sebagian yang lain memperbolehkan apabila
digunakan untuk fadhailul ‘amal atau bila tidak ditemukan dalil yang lebih
kuat. 8 Dan dimungkinkan pelaksanaan hadīs ini adalah atas tujuan fadhailul
‘amal sehingga melaksanakan hadīs ini dalam kehidupan sehari-hari adalah
dibolehkan.
Disamping itu juga melihat fenomena yang terjadi di kalangan orangorang
yang berpegang dengan sunnah Nabi SAW masih menunjukkan bahwa
mengumandangkan ażān pada telinga bayi yang baru lahir merupakan bagian
7 Sri Mufarida, “Kualitas Hadiś Tentang Ażan Pada Telinga Bayi yang Baru Lahir”,
Skripsi Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang, (Semarang, Perpustakaan Fakultas
Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang, 2002), hlm. 77, td.
8 Tengku Muhammad Hasbi ash Shiqqieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits,
(Semarang, Pustaka Rizki Putra : 1999), hlm. 201-202.
5
syariat Islam.9 Tentunya dengan alunan suara yang merdu (tidak terlalu keras)
ke telinga bayi yang baru lahir.10
Dari hadīs tersebut yang meskipun dianggap da’īf karena melalui satu
periwayat yang da’īf, tapi melihat kenyataan di masyarakat yang banyak sekali
melaksanakan hadīs tersebut maka penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut
akan adanya bentuk pendidikan yang dapat diambil dari hadīs tersebut melalui
penulisan skripsi dengan judul : Nilai-nilai Edukatif Dalam Hadīs Nabi
SAW (Studi Analisis Terhadap Hadīs Tentang Ażān di Telinga Bayi
yang Baru Lahir)

Untuk mendownload silakan klik link di bawah ini

Download di sini

Nilai-nilai Edukatif Dalam Hadīs Nabi SAW (Studi Analisis Terhadap Hadīs Tentang Ażān di Telinga Bayi yang Baru Lahir), 4.9 out of 5 based on 48 ratings
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Copyright Notice: Skripsi-skripsi yang dipublikasikan di Pustakaskripsi.com adalah skripsi dengan lisensi boleh dipublikasikan dengan pernyataan Copyright sebagai berikut:
Copyrights : Copyright (c) <Universitas Penerbit>. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Jika anda adalah penulis atau penerbit skripsi ini dan merasa tidak menerbitkan lisensi tersebut, dan merasa keberatan skripsi anda dipublikasikan, silahkan menghubungi admin di admin [at] pustakaskripsi.com. Kami akan dengan senang hati meng-unpublish Skripsi anda.

Sebarkan Ilmu walaupun hanya satu Ayat. Ilmu yang kau bagikan kepada orang lain maka akan semakin bertambah dan berkah.

Leave a Comment

Receive all updates via Facebook. Just Click the Like Button Below

Powered By Blogger Widgets