Pemikiran Haji Agus Salim Tentang Islam

This item was filled under [ sejarah ]
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 4.8/5 (114 votes cast)

skripsi jurusan sejarah: Pemikiran Haji Agus Salim Tentang Islam.

Nur Iman. 2006. Skripsi sejarah, Fakultas ilmu sosial, Universitas Negeri Semarang.

Haji Agus Salim dilahirkan pada akhir abad ke-19 dan hidup sampai pertengahan abad ke-20, di tengah umat Islam Indonesia yang sedang mengalami berbagai permasalahan. Persoalan tersebut berasal dari intern umat Islam sendiri dalam menerjemahkan Islam dan dari ekstern umat Islam Indonesia, terutama dari infiltrasi kaum imperialis (Belanda) terhadap aktualisasi keIslaman masyarakat. Para pelopor gerakan pembaruan Islam telah sejak awal abad ke-20 memproklamirkan bahwa pintu ijtihad (berusaha untuk mengetahui hukum sesuatu melalui dalil-dalil agama) tak pernah tertutup dan keberanian untuk langsung memahami ajaran agama pada Quran dan Hadist, serta menyeimbangkan antara naql dan aql (tertulis dan akal) adalah suatu keharusan. Haji Agus Salim hadir ditengah-tengah umat tersebut dengan membawa pandangan untuk mengembalikan keadaan umat Islam pada pemahaman konsep-konsep Islam alternatif yang patut.

Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah: Faktor-faktor apa sajakah yang melatarbelakangi pemikiran Haji Agus Salim tentang Islam? Bagaimana pemikiran Haji Agus Salim tentang Islam? Bagaimanakah upaya Haji Agus Salim dalam mewariskan gagasan Islam-nya? Adapun tujuan dari penelitian ini ialah untuk berusaha membaca kembali sosok seorang aktor sejarah pada dimensi pemikirannya yang telah secara langsung ikut berperan dalam panggung sejarah bangasa Indonesia, terutama fenomena pemikirannya tentang Islam.
Penelitian ini menggunakan metode sejarah, yakni dengan tahapan-tahapan sebaggai berikut: Heuristik (mencari dan mengumpulkan jejak-jejak peristiwa sejarah), Kritik sumber yaitu dengan kritik ekstern dan kritik intern, Interpretasi (menghubungkan satu fakta dengan fakta lain) dan Historiografi (penulisan cerita sejarah).
Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa Haji Agus Salim adalah pemikir dan intelektual Islam yang reflektif dan progresif. Dia dihadapkan pada suatu pilihan yang relatif dilematis untuk menampilkan Islam di jamannya. Kolonialisasi di Indonesia yang berpenduduk mayoritas beragama Islam, telah secara politis menciptakan jurang pemisah nilai-nilai universal Islam dengan nilai-nilai modernitas yang berkembang di Barat. Di lain pihak sikap para ulama tradisional yang kaku dan diliputi alam pikiran sempit dirasakan kurang berarti dalam mengimbangi kemajuan jaman. Haji Agus Salim merupakan sedikit dari banyak tokoh Islam yang secara strategis dapat menyinergikan Islam dengan nilai-nilai modern substantif dengan mengatakan bahwa rasionalisasi adalah Hal yang harus dilakukan, tetapi kalau tidak dibimbing oleh pengakuan tentang keberadaan naql (petunjuk yang diwahyukan) maka semua itu hanya akan mengalami kebangkrutan dunia dan akhirat.

Letak obyektifitas dan keintelektualan Haji Agus Salim sebagai sosok seorang ulama bisa dicermati dalam kajian materi yang pernah dibahas, antara lain yaitu: tentang aqidah (keyakinan), yang berisi konsep tauhid (ketuhanan), takdir (ketentuan Tuhan) dan tawakkal (berserah diri). Kedua, pemikiran yang terkait dengan dimensi syariah (hukum-hukum termaktub) yang berisi gagasan dalam sosial dan ritual. Ketiga, berkenaan dengan Ihsan (budi pekerti), yang mengandung gambaran tentang sikap, dan keutamaan-keutamaan dalam Islam yang teraplikasi. Haji Agus Salim mengunakan gaya pembahasan menggunakan analisis-dialektis ke-Islaman dan penyatuan antara akal dengan ajaran agama Islam serta diperkaya dengan wacana aktual dan dimensi historis. Demikianlah Haji Agus Salim adalah broker of ideas (pencetus ide) sekaligus bagi dua tradisi kecendikiaan yang tumbuh (Pesantren dan Barat) dan reformer (pembaharu) bagi masyarakat awam dalam memandang agama.
Haji Agus Salim sebagai tokoh intelektual Islam, dapat dikatakan telah mentranformasikan kecendikiaan ke wilayah sosial yang semakin luas, yakni kepada kaum terpelajar Islam didikan Barat yang sekuler tetapi tetap beriman. Dari “mulut” Haji Agus Salim-lah para pelajar ini mengenal Islam secara cerdas, kritikal, komprehensif dan modern. Tokoh seperti Muhammad Natsir, Muhammad Roem, Kasman Singo Dimejo, Prawoto, Jusuf Wibisono, adalah anak didik Haji Agus Salim, yang dikemudian hari (pada masa awal kemerdekaan) dikenal dengan golongan “Salimisten”. Sifat advokatif (pembelaan) terhadap umat dan ajaran Islam yang menonjol dari golongan ini bisa dikatakan sebagai cerminan dari warisan Haji Agus Salim.

Download

Pemikiran Haji Agus Salim Tentang Islam, 4.8 out of 5 based on 114 ratings
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Copyright Notice: Skripsi-skripsi yang dipublikasikan di Pustakaskripsi.com adalah skripsi dengan lisensi boleh dipublikasikan dengan pernyataan Copyright sebagai berikut:
Copyrights : Copyright (c) <Universitas Penerbit>. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Jika anda adalah penulis atau penerbit skripsi ini dan merasa tidak menerbitkan lisensi tersebut, dan merasa keberatan skripsi anda dipublikasikan, silahkan menghubungi admin di admin [at] pustakaskripsi.com. Kami akan dengan senang hati meng-unpublish Skripsi anda.

Sebarkan Ilmu walaupun hanya satu Ayat. Ilmu yang kau bagikan kepada orang lain maka akan semakin bertambah dan berkah.

Leave a Comment

Receive all updates via Facebook. Just Click the Like Button Below

Powered By Blogger Widgets