PERAN MMQ (MADRASAH MUROTTILIL QUR’AN) SEBAGAI WADAH PENDIDIKAN AL-QUR’AN

This item was filled under [ Tarbiyah ]
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 4.6/5 (127 votes cast)

Skripsi Tarbiyah : PERAN MMQ (MADRASAH MUROTTILIL QUR’AN) SEBAGAI WADAH PENDIDIKAN AL-QUR’ANDI PONDOK PESANTREN HM. PUTRI AL-MAHRUSIYAH LIRBOYO KEDIRI


Oleh :
Harun Arrosyid
03.01.0.3459
Pendidikan Agama Islam
FAKULTAS Tarbiyah
INSTITUT AGAMA ISLAM TRIBAKTI
(IAIT) KEDIRI

Al-Qur’an kitab suci bagi umat Islam dan merupakan petunjuk yang diturunkan Allah SWT untuk manusia sebagai petunjuk hidup di dunia maupun di akhirat kelak (syafa’at). Al-Qur’an merupakan kumpulan kitab-kitab terdahulu sebelum Nabi Muhammad SAW, sehingga al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur sesuai kebutuhan yang lamanya dua puluh tahun bahkan lebih. Tetapi al-Qur’an pada zaman Nabi belum dibukukan dalam satu Mushaf dan betul-betul terpelihara dengan sempurna. Firman Allah SWT dalam Surat Al-Hijr 15:9.

$¯RÎ) ß`øtwU $uZø9¨“tR tø.Ïe%!$# $¯RÎ)ur ¼çms9 tbqÝàÏÿ»ptm: âالحجر:   á X

Terjemahnya: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kamibenar-benar memeliharanya (Q.S. Al-Hijr 15:9).[1]

Jaminan yang diberikan atas dasar Kemahakuasaan dan Kemahatahuan-Nya, terutama oleh manusia. Dengan jaminan ayat di atas, setiap Muslim percaya bahwa apa yang di baca dan didengarkannya sebagai al-Qur’an tidak berbeda sedikit pun dengan apa yang pernah dibaca oleh Rasulullah SAW., ketika wahyu turun melalui malaikat jibril dan menyampaikannya kepada Nabi, wahyu itupun didengar oleh para sahabat ketika dibacakan langsung oleh Nabi setelah turunnya wahyu dan yang didengar serta dibaca  oleh para sahabat Nabi SAW.[2] Karena disampinng Nabi menganjurkan para sahabat menghafalkan, Nabi juga mempunyai juru tulis wahyu yang dihadapannya mereka menulis dengan perintah dan iqrornya.[3] Karena ditakutkan akan hilang dari hafalan para sahabat bila wafat nanti.

Uraian diatas ternyata memang terbukti ada pada semasa periode Khalifah Abu Bakar yang menggantikan kepemimpinan setelah Nabi wafat, dan di masa Khalifah Abu Bakar adanya peperangan yang gugur didalamnya sebagian besar para Sahabat penghafal al-Qur’an. Dengan jeri payah usaha para Sahabat tidak sia-sia yang menngumpulkan dan mencatat Mushaf al-Qur’an yang pertama atas pengawasan Khalifah Abu Bakar. Dan di peeriode Khalifah Umar adanya perubahan pada pembuatan Mushaf al-Qur’an yang tidak berubah dari semula di buat dan disetujui oleh para Sahabat.

Dari masa kemasa al-Qur’an jadilah seperti sekarang ini berupa Mushaf, sebuah perjuangan yang amat besar atas jasa para sahabat dan tabi’in. Untuk menjaga keutuhannya, kaum muslim diberbagai Negara tidak tinggal diam khususnya di Indonesia dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan al-Qur’an semisal TPA (Taman Pendidikan Anak-anak) dan TPQ (Taman Pendidikan al-Qur’an) semakin marak banyak bermunculan di kota maupun di desa belakangan ini, masyarakat muslim Indonesia sadar akan pentingmya pendidikan al-Qur’an sejak dini. Sangat ironis sekali jika sekian banyak umat mengaku bergama Islam, mengaku Allah SWT sebagai tuhannya, Nabi Muhammad SAW sebagai rasulnya dan al-Qur’an sebagai kitabnya, namun ternyata buta dengan al-Qur’an, tidak dapat manulis, membaca lebih-lebih memahami dan mengamalkannya.

Realita yang kongkrit sekarang ini ditemui fenomena pendidikan al-Qur’an sungguh suatu yang positif dan harus didukung. Sambutan dan dukungan ini tentunya tidak berhenti pada pembelajaran membaca dan menulis saja, akan tetapi kemudian kita menifestasikan dalam kehidupan sehari-hari sebagai jalan hidup.

Salah satu keuutamaan al-Qur’an adalah jangankan menggali mutiara-mutiara yang terpendam dalam al-Qur’an, membaca dengan baik dan benar sajapun tanpa tahu artinya pelaku disebut berpahala karena dianggap beribadah kepada Allah SWT.

Sungguh memang sulit, ketika dunia pondok pesantren berusaha untuk mengimbangi kemajuan zaman dengan pembaharuan kurikulum, metode, sistem dan namun di sisi lain mempertahankan profesiolitas menjadi terabaikan. Bagaimanapun juga yang diharapkan adalah pondok pesantren mampu menghasilkan Out Put yang berkualitas tinggi.

Dan Pondok Pesantren yang sering dibicarakan masyarakat luas adalah Lembaga dan Pendidikan Agama Islam yang klasik  sebagai sarana pendidikan agama yang memfokuskankan pada pengetahuan kitab-kitab yang dikarang oleh ulama terdahulu sebagaimana pada pondok pesantren Hidayatul Mubtadien Lirboyo yang dikenal spesifikasinya dalam ilmu alat (nahwu, shorof dan balagoh) dan ada pula pondok pesantren yang memfokuskan pada pengajaran al-Qur’an  salah satunya adalah Madrasah Murottilil Qur’an (MMQ) Lirboyo.

Untuk mendownload silakan klik link di bawah ini

Download di sini

PERAN MMQ (MADRASAH MUROTTILIL QUR’AN) SEBAGAI WADAH PENDIDIKAN AL-QUR’AN, 4.6 out of 5 based on 127 ratings
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Copyright Notice: Skripsi-skripsi yang dipublikasikan di Pustakaskripsi.com adalah skripsi dengan lisensi boleh dipublikasikan dengan pernyataan Copyright sebagai berikut:
Copyrights : Copyright (c) <Universitas Penerbit>. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Jika anda adalah penulis atau penerbit skripsi ini dan merasa tidak menerbitkan lisensi tersebut, dan merasa keberatan skripsi anda dipublikasikan, silahkan menghubungi admin di admin [at] pustakaskripsi.com. Kami akan dengan senang hati meng-unpublish Skripsi anda.

Sebarkan Ilmu walaupun hanya satu Ayat. Ilmu yang kau bagikan kepada orang lain maka akan semakin bertambah dan berkah.

Leave a Comment

Receive all updates via Facebook. Just Click the Like Button Below

Powered By Blogger Widgets