PERGOLAKAN SOSIAL PETANI TEH PAGILARAN KABUPATEN BATANG TAHUN 1998-2000

This item was filled under [ sejarah ]
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 5.0/5 (28 votes cast)

skripsi Jurusan Sejarah: PERGOLAKAN SOSIAL PETANI TEH PAGILARAN KABUPATEN BATANG TAHUN 1998-2000

WAHYU NUGROHO . 2007. skripsi Jurusan Sejarah,FAKULTAS ILMU SOSIAL, Universitas Negeri Semarang. 2007

Dalam lembaran Sejarah Indonesia hampir sepenuhnya petani selalu menjadi obyek eksploitasi, baik oleh pemerintah kerajaan maupun pemerintah kolonial. Masuknya sistem perkebunan ke pedalaman Jawa merupakan awal mula sebuah sistem eksploitasi yang lahir dari proses penjajahan. Pengelolaan tanah dengan tanaman homogen (monokultur), ekspansi wilayah, mobilisasi tenaga kerja dan diskriminasi tidak memberi hak hidup pada petani. PT. Pagilaran merupakan salah satu bentuk perusahaan perkebunan teh di Kecamatan Blado, Kabupaten Batang, yang telah memonopoli tanah dan tenaga kerja petani, sehingga petani tidak mendapatkan apa yang menjadi hajat hidupnya. Hal tersebut mengakibatkan ketimpangan dalam penguasaan sumber daya alam, terutama dalam penguasaan tanah di Pagilaran.

Permasalahan yang muncul dari penelitian ini adalah, (1) kehidupan sosial ekonomi petani teh Pagilaran tahun 1998-2000, (2) pengaruh adanya Pabrik dan Perkebunan teh Pagilaran pada tahun 1998-2000 bagi masyarakat sekitar, (3) pergolakan sosial yang terjadi pada petani teh Pagilaran tahun 1998-2000.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui kehidupan sosial masyarakat petani teh pagilaran tahun 1998-2000, (2) Mengetahui hubungan antara petani dan perkebunan teh Pagilaran yang terjadi tahun 1998-2000, (3) Mengetahui pergolakan sosial yang terjadi pada petani teh pagilaran tahun 1998-2000. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah. Langkah-langkah penelitian yang digunakan dalam metode tersebut ada 4 tahap, yaitu: heuristik, kritik sumber, interprestasi dan historiografi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem eksploitasi yang merupakan peninggalan kapitalisme masih dipertahankan dalam praktek perkebunan. Sistem ini tentu saja semakin menyengsarakan petani. Para buruh tani Pagilaran yang rata-rata tidak bertanah, karena tanah yang menjadi lahan garapan mereka telah direbut oleh perkebunan, tidak mempunyai pilihan lain selain bekerja sebagai buruh di perkebunan walaupun dengan upah yang relatif kecil. Hal tersebut terjadi karena mereka tidak dapat lagi mengolah tanah peninggalan nenek moyang mereka.
Dengan demikian kemudian timbul sengketa kepemilikan lahan antara petani dengan PT. Pagilaran.
Petani menggap dalam HGU Perkebunan Pagilaran seluas 1.131 Ha, terdapat sekitar 450 Ha lahan milik petani, yang sebenarnya berada di luar areal perkebunan. Petani yang merasa kecewa terhadap kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten Batang yang tidak dapat menyelesaikan sengketa tanah yang mereka hadapi, berusaha merebut kembali tanah mereka dengan jalan reklaiming. Tindakan para petani ini justru memicu pihak perkebunan untuk semakin kuat dalam mempertahankan lahan persengketaan tersebut.
Perkebunan melakukan teror representatif terhadap para petani yang mendukung aksi reklaiming. Tidak hanya itu saja, beberapa orang petani bahkan ditangkap oleh aparat dengan tuduhan melakukan perusakan lahan perkebunan. Hal ini tentu saja mengakibatkan kondisi sosial ekonomi para petani teh Pagilaran semakin bergejolak.
Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa kondisi sosial ekonomi petani yang buruk, justru semakin bertambah sengsara dengan sistem eksploitasi yang diterapkan perkebunan. Kesejahteraan para petani tidak pernah diperhatikan oleh perusahaan. Petani yang bekerja menjadi buruh di PT. Pagilaran tidak mempunyai hubungan kerja yang jelas.
Status mereka sebagian besar adalah sebagai buruh harian lepas, tanpa ikatan kerja yang jelas. Upah yang kecil serta jam kerja yang tidak mengenal waktu harus diterima petani karena tidak adanya pilihan lain, selain bekerja di perkebunan.
Persoalan tanah merupakan permasalahan yang penting dan harus segera diselesaikan sebab mempunyai potensi konflik yang tinggi. Hal ini akan berlangsung terus sebelum ditemukannya jalan keluar sebagai pemecahan permasalahan agraria di Indonesia.

Download

PERGOLAKAN SOSIAL PETANI TEH PAGILARAN KABUPATEN BATANG TAHUN 1998-2000 , 5.0 out of 5 based on 28 ratings
Tagged with: [ , , , ]
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Copyright Notice: Skripsi-skripsi yang dipublikasikan di Pustakaskripsi.com adalah skripsi dengan lisensi boleh dipublikasikan dengan pernyataan Copyright sebagai berikut:
Copyrights : Copyright (c) <Universitas Penerbit>. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Jika anda adalah penulis atau penerbit skripsi ini dan merasa tidak menerbitkan lisensi tersebut, dan merasa keberatan skripsi anda dipublikasikan, silahkan menghubungi admin di admin [at] pustakaskripsi.com. Kami akan dengan senang hati meng-unpublish Skripsi anda.

Sebarkan Ilmu walaupun hanya satu Ayat. Ilmu yang kau bagikan kepada orang lain maka akan semakin bertambah dan berkah.

Leave a Comment

Receive all updates via Facebook. Just Click the Like Button Below

Powered By Blogger Widgets