Skripsi Syariah 4

This item was filled under [ Syariah ]
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 4.6/5 (126 votes cast)

Skripsi Jurusan Syariah


Akar konflik Arab-Israel dapat dilacak ke masa lebih dari seabad silam ketika bangsa Yahudi, yang putus asa dengan prospek integrasi ke dalam masyarakat  Eropa,  mulai  berimigrasi  ke Palestina  pada  tahun  1882  M / 1299 H.  Motifnya bukanlah  sebagai  hasrat  individu  yang  ingin  berdoa  dan  meninggal  di Jerusalem, melainkan sebagai bagian dari suatu gerakan politik. Pada tahun 1897 M / 1314 H, kecenderungan politik ini semakin dikukuhkan dengan diselenggarakannya Kongres Zionis Pertama, yang menyerukan dibentuknya sebuah tanah air Yahudi di Palestina sehingga melahirkan gerakan nasional Yahudi modern, yaitu Zionisme.1) Namun, tanah itu – menurut orang Yahudi adalah milik mereka berdasarkan kehendak Tuhan dan hak historis – telah dihuni oleh bangsa Palestina yang tinggal di sana selama berabad-abad meskipun baru belakangan ini saja tampil sebagai sebuah entitas politik.2)

Kedatangan kaum imigran Yahudi mula-mula tidak mendapat tantangan dari penduduk setempat. Beberapa dasawarsa kemudian, gerakan Zionisme mulai dipandang sebagai ancaman, baik oleh penduduk asli Palestina, maupun bangsa Arab lainnya. Momen sangat menentukan dalam hubungan  antara  kedua  gerakan  nasional  itu,  bangsa  Arab  dan  Palestina  di satu sisi,  dan  Zionisme  di sisi  lain,  adalah  lahirnya  Deklarasi  Balfour  pada  2 November 1917 M (17 Muharram 1336 H) , yang di dalamnya, Menteri Luar Negeri Inggris, Arthur Balfour,3) menjanjikan sebuah tanah air bagi Bangsa Israel di Palestina, dengan jaminan bahwa pemerintah Inggris akan berusaha keras untuk memberi kemudahan guna mencapai tujuan ini.4)

Tindakan  pemerintah  Inggris  ini,  yang  memperoleh  kekuasaan mandat di Palestina pada tahun 1920 M / 1339 H setelah perang Dunia I, menimbulkan kemarahan bangsa Palestina dan menimbulkan kekerasan yang terus berlanjut hingga sekarang ini. Bangsa Palestina semakin terasing oleh imigrasi besar-besaran kaum  Zionis  ke Palestina,  yang  meningkatkan  jumlah  orang  Yahudi  dari 24 ribu pada tahun 1881 M / 1329 H (5 persen dari seluruh populasi), menjadi 85 ribu pada tahun 1914 M / 1333 H (24 persen). Gelombang imigrasi semakin gencar setelah lahirnya Deklarasi Balfour dan Nazisme di Jerman pada 1933 M / 1352 H, yang menambah jumlah imigran Yahudi menjadi 368.845 antara tahun 1921 M / 1340 H dan 1945 M / 1364 H. Di Jerusalem saja, kota penting di Palestina, baik bagi bangsa Arab maupun bangsa Yahudi (seperti juga bagi kaum Muslim dan Kristen), jumlah orang Yahudi meningkat dari 53 ribu menjadi 70 ribu dalam waktu  empat  tahun,  sejak  tahun  1931  M  /  1350  H  hingga  tahun  1935  M / 1354 H.5)

Selama akhir 1920-an dan awal 1930-an, muncul seruan jihad dari beberapa kelompok – terutama Imam Haifa, Syaikh ‘Izzuddin al-Qassâm (1882 – 1935 M / 1299 – 1354 H), dan para pengikutnya. Selama pemberontakan tahun 1936-1939 M / 1354 – 1357 H, para otoritas religius Muslim dari Irak, Suriah, dan bahkan India serta negeri lainnya mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa jihad demi Palestina adalah wajib.6)

Pada tahun 1936 M / 1355 H Syaikh Izzuddin al-Qassâm gugur syahid. Seluruh lapisan rakyat Palestina berkabung. Penguburan jenazahnya diselenggarakan dalam bentuk upacara resmi kenegaraan. Tetapi syahidnya Syaikh al-Qassâm tidak membuat surut perjuangan rakyat Palestina, malah sebaliknya, memberi inspirasi kepada mereka untuk terus melanjutkan gerakan jihadnya. Maka, pada tahun itu pula terjadi gerakan perlawanan terbesar rakyat Palestina, yang dikategorikan sebagai perlawanan terlama dan terlengkap dalam sejarah perjuangan  rakyat  Palestina.  Pada  tahun  itu  terjadi  demonstrasi  dan  bentrokan dengan  Zionis  di seluruh  pelosok  kota-kota  besar  dan  perkampungan Palestina tanpa  terkecuali.  Perlawanan  itu  kemudian  memadukan  antara  kekuatan gerakan  sosial  dan  kekuatan  persenjataan  gerakan  jihad  yang  ada.  Dari sanalah,  inspirasi  sayap  militer  HAMAS 7) dibentuk  dengan  nama Izzuddîn al-Qassâm.8)

Setelah melakukan perlawanan yang gigih terhadap Israel dengan menggunakan berbagai cara dan sarana yang seadanya seperti batu, pisau dan senjata  rampasan,  sejak  tahun  1987  M  /  1407  H  hingga  tahun  1992  M  / 1412 H, maka pada tahun 1992 perjuangan dan perlawanan rakyat Palestina mulai berkembang lebih keras lagi yaitu dengan menggunakan bom mobil. Pelopornya adalah seorang pakar bom bernama Yahya Ayash. Ayash, seorang mahasiswa lulusan studi elektronika Universitas Beirzeit itu merakit bom melalui bahan-bahan kimia yang diperoleh di tokoh obat dan apotik-apotik di Palestina. Peristiwa serangan bom pertama terjadi melalui bom mobil di Romat Efal, wilayah yang dikuasai oleh Israel. Sejumlah aksi-aksi menggunakan bom mobil setelah itu mulai bergulir dan membuat Israel ternyata tak mampu melacak adanya bom mobil yang masuk ke wilayah mereka.

Setelah aksi bom mobil kemudian berlanjut dengan aksi-aksi bom syahid. Para pejuang Palestina membawa bom dalam tas atau tubuhnya, dan meledak di tengah kemunitas ramai orang-orang Zionis. Tokoh pertama sebagai pioner manusia bom syahid bernama Zekarena. Julukan yang diberikan untuknya adalah Ukâsyah istisyhâdiyyîn. Ukâsyah adalah nama sahabat Rasulullah yang pertama kali diberi jaminan masuk surga oleh Rasulullah SAW. Aksi Zekarena terjadi pada bulan Mei 1994 M / Zulqa’dah 1414 H yang meledakkan sebuah bus berisi penduduk dan tentara Israel yang tengah menuju ke arah Avola. Delapan orang Israel tewas dalam serangan ini. Hanya selang  bebarapa  hari  setelah  aksi  ini,  meledak  lagi sebuah bom syahid di sebuah bis di Al- Khadera. Pelakunya bernama Ammar Amarena, pejuang yang juga merupakan hasil kaderisasi Yahya Ayash. Akibatnya, 5 orang Israel tewas. Semenjak itu, bahkan aksi-aksi bom syahid9) diikuti pula oleh elemen pergerakan lain di Palestina.10)

Pertengahan April tahun 1996 M / Zulqa’dah 1416 H, Hizbullah, organisasi militan Islam yang bermarkas di Lebanon, mengumumkan akan menyiapkan 70 anggotanya untuk melakukan aksi bom syahid ke Israel. Rencana itu menyusul sukses HAMAS dalam beberapa serangan bom syahid yang hingga 25 Februari tahun 1996 M / 6 Syawwal 1416 H sempat meluluhlantakkan 61 tentara dan ratusan warga Israel lainnya. Aksi heroik itu disebut oleh barbagai media sebagai tindakan bunuh diri. Sementara oleh pemerintah Israel, aksi itu dianggap sebagai terorisme. Sikap terhadap  aksi  bom  syahid  itu  pun  berbeda-beda.  Banyak  yang menyokong, dan tidak sedikit pula yang mengutuknya. Pro-kontra pun bermunculan. Bahkan, ulama Islam pun angkat bicara menyangkut aksi heroik ini.11)

Syaikh Yûsuf al-Qaradâwî, pakar hukum Islam asal Mesir, dalam khutbah jum’at-nya yang disiarkan secara langsung oleh TV nasional di Qatar, 8 Maret 1996 M / 18 Syawwal 1416 H, pun menjelaskan status hukum aksi bom syahid HAMAS itu. Menurutnya, sekarang bom syahid itu terhitung jihad dan bukan tindakan bunuh diri sebagaimana diisukan beberapa media internasional. Mereka terbunuh dalam aksi tersebut dianggap mati syahid dan pelakunya adalah seorang mujahid sejati.

Dalam fatwanya beliau menyatakan :

إن هذه العمليات تعد من أعظم أنواع الجهاد فى سبيل الله, وهي من الإرهاب المشروع الذي أثار إليه القرآن في قوله تعالى : (وأعدوا لهم ماا ستطعتم من قوة ومن رباط الخيل ترهبون به عدو الله وعدوكم) [ الأنفال : 6].

وتسمية هذه العمليات انتحارية تسمية خاطئة ومضللة, فهي عمليات فدائية بطولية إستشهادية, وهي أبعد ماتكون عن الانتحار, ومن يقوم بها أبعد ما يكون عن نفسية المنتحر, إن المنتحر, يقتل نفسه من أجل نفسه, وهذا يقتل نفسه من أجل دينه وأمته, والمنتحر إنسان يائس من نفسه ومن روح الله, وهذا المجاهد إنسان كله أمل في روح الله ورحمته, المنتحر يتخلص من نفسه ومن همومه بقتل نفسه, والمجاهد يقاتل عدو الله وعدوه بهذا السلاح الجديد, الذي وضعه قدر الله فى يد المستضعفين ليقاوموا به جبروت الأقوياء المستكبرين, أن يصبح المجاهد (قنبلة بشرية) تنفجر في مكان معين وزمان معين في أعداء الله والوطن, الذين يقفون عاجزين أمام هذا البطل الشهيد, الذي باع نفسه لله, ووضع رأسه على كفه مبتغيا الشهادة قي سبيل الله.

فهؤلاء الشباب يدافعون عن أرضهم- وهي أرض الإسلام-, وعن دينهم وعرضهم وأمتهم ليسوا بمنتحرين, بل أبعد ما يكونون عن الانتحار, وإنما هم شهداء حقّاً بذلوا أرواحهم- وهم راضون – في سبيل الله, مادامت نياتهم خالصة لله, وما داموا مضطرين لهذا الطريق لإرعاب أعداء الله, المصرٌين على عدوانهم, المغرورين بقوتهم, وبمساندة القوى الكبرى لهم والأمر كما قال الشاعر العربي قد يماً.

إذا لم يكن إلا الأسنــــة مركبٌ                  فما حيلة المضطر إلاركوبُها12)

Adapun Syaikh Muhammad Nâsiruddîn al-Albânî , seorang pakar ilmu Hadis dari  Yordania,13) berpendapat  sedikit  berbeda  dengan  Syaikh Yûsuf al-Qaradâwî tersebut. Beliau memberikan jawaban atas pertanyaan mengenai aksi bom syahid itu, sebagaimana kutipan fatwanya yang berbunyi :

العلميات الانتحارية التي تقع اليوم أنا أقول في مثلها تجوز ولا  تجوز…وتفصيل هذا الكلام المتناقض ظاهرا, أنها تجوز في النظام الاسلامي,الذي يقوم علي أحكام الاسلام, ومن هذه الاحكام أن لا يتصرف الجندي برأيه الشخصي وإنما يأتمربأمر أميره, لأن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقول: (من أطاعني فقد أطاع الله, ومن أطاع أميري فقد أطاعني…) فإذا كان هناك- ونرجو أن يكون قريبا- جهاد إسلامي, على النظام الإسلامي وأميره لا يكون جاهلآ, وإنما يكون عالمآ با لإسلام’ خاصة الأحكام المتعلقة بالجهاد فى سبيل الله. هذا القا ئد أو هذا الأمير  المفروض أنه يعرف, وأخذ مخطط سا حة المعر كة وتصورها فى ذهنه تمامآ فهو يقال في مثله (يعرف كيف تؤكل الكتف), يعرف مثلآ إذا كان هناك طائفة من الجيش لها نكا ية في الجيش الإسلامي ورأى أن يفادي بجزء من جنوده…)            14)

Dari paparan dua fatwa tersebut dapat dipahami bahwa Syaikh Yûsuf al-Qaradâwî menyatakan  aksi bom syahid yang dilakukan oleh para pejuang Palestina adalah tindakan Istisyhâdiyah, yang benar dan sah secara hukum, sedangkan Syaikh Muhammad Nâsiruddîn al-Albânî , menyatakan aksi bom syahid dapat dibenarkan dengan syarat adanya sebuah mekanisme kepemimpinan yang Islami, jika syarat itu tidak terpenuhi, maka aksi bom syahid itu tidak dapat di benarkan.

Adanya perbedaan itulah, yang mendorong penyusun untuk menelusuri lebih dalam lagi terjadinya perbedaan pandangan dalam fatwa terhadap aksi bom syahid yang dilakukan oleh organisasi HAMAS di Palestina, termasuk kemungkinan adanya aspek-aspek sosial politik yang lain di Palestina yang mempengaruhi pendapat hukum dari kedua tokoh tersebut.

Untuk mendownload silakan klik link di bawah ini
Download di sini

Skripsi Syariah 4, 4.6 out of 5 based on 126 ratings
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Copyright Notice: Skripsi-skripsi yang dipublikasikan di Pustakaskripsi.com adalah skripsi dengan lisensi boleh dipublikasikan dengan pernyataan Copyright sebagai berikut:
Copyrights : Copyright (c) <Universitas Penerbit>. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Jika anda adalah penulis atau penerbit skripsi ini dan merasa tidak menerbitkan lisensi tersebut, dan merasa keberatan skripsi anda dipublikasikan, silahkan menghubungi admin di admin [at] pustakaskripsi.com. Kami akan dengan senang hati meng-unpublish Skripsi anda.

Sebarkan Ilmu walaupun hanya satu Ayat. Ilmu yang kau bagikan kepada orang lain maka akan semakin bertambah dan berkah.

Leave a Comment

Receive all updates via Facebook. Just Click the Like Button Below

Powered By Blogger Widgets