Skripsi Tafsir Hadis 1

This item was filled under [ Tafsir Hadis ]
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 5.0/5 (24 votes cast)

Skripsi Tafsisr Hadis

Setiap agama –sebagaiamana juga dengan Islam- lahir dalam sebuah lingkup sejarah dan kemudian menciptakan tradisi.[1] Kebesaran sebuah agama, oleh karenanya, akan diukur antara lain melalui kebesaran tradisi yang ditinggalkan.[2] Sedangkan kuat-lemahnya sebuah tradisi agama akan ditentukan oleh kualitas dan kuantitas penganutnya,[3] disamping tentu saja oleh muatan ajaran atau doktrinnya. Karena agama tidak muncul di ruang hampa, maka kemunculannyapun merupakan respon terhadap “realitas”.[4] Sehingga makna dan kebesaran agama tidak bisa dilepaskan dari “realitas” yang melahirkannya dan berkembang dalam sebuah lanskap histroris yang cukup dinamis.[5]

Ajaran dan tradisi agama yang paling hakiki sesungguhnya bisa kita lihat pada nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung di dalamnya.[6] Salah satu bentuk elaborasinya adalah pengakuan yang tulus terhadap kesamaan dan kesatuan manusia.[7] Semua manusia adalah sama dan berasal dari sumber yang satu, yakni Tuhan. Dalam Islam diyakini bahwa yang membedakan manusia hanyalah prestasi dan kualitas ketakwaannya, sementara bicara soal takwa, hanya Tuhan semata yang punya hak prerogratif melakukan penilaian.

Penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan ini diejawantah dengan keharusan menghormati sesama manusia tanpa melihat jenis kelamin, gender, ras, suku bangsa dan bahkan agama.[8] Karena itu, setiap agama selalu memiliki dua aspek ajaran; ketuhanan (vertikal) dan kemanusiaan (horizontal) atau dalam bahasa yang sering kita dengar adalah habl min al-nas dan habl min-allah. Dalam tradisi Islam, aspek vertikal berisi seperangkat kewajiban manusia kepada Tuhan sementara aspek horizontal berisi seperangkat tuntutan yang mengatur hubungan antara sesama manusia dengan manusia dan juga hubungan manusia dengan alam sekitar. Sayangnya, aspek horizontal ini tidak terimplementasikan dengan baik dalam kehidupan penganutnya, khususnya dalam interaksi dengan sesamanya.

Barangkali disinilah letak pentingnya membahas hubungan sesama manusia dengan manusia baik secara pribadi maupun kolektif dari perspektif fiqh. Sejauh yang kita amati, fiqh cenderung mengedepankan sudut pandang antagonistik bahkan penolakan terhadap “orang lain” dan “komunitas lain”.[9] Salah satunya adalah persoalan pernikahan antar/beda agama.[10] Hampir semua doktrin agama-agama yang ditafsirkan oleh “penguasa” agama melarang praktik manusia semacam ini. Dan dalam perkembangannya, doktrin semacam ini dipegang sebagai pandangan atau tafsir tunggal terhadap teks-teks kitab suci yang membahas masalah ini oleh mayoritas masyarakat.

Pandangan masyarakat dan para agamawan tersebut makin kuat karena dilegalkan negara melalui UU. No. 1 tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang disyahkan dengan Inpres No. 1 tahun 1991. Akibatnya negara sama sekali tidak mengakomodir adanya pernikahan antar agama di Indonesia, terutama bagi Muslim dan non Muslim. Ini masih diperkuat lagi dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tanggal 1 Juni 1980 [11] yang mengharamkan pernikahan beda agama, baik antara laki-laki Muslim dengan perempuan non-Muslim, termasuk perempuan Ahli al-Kitab (Baca: “ahlul-kitab”, di-Indonesiakan dan dimudahkan menjadi “Ahli Kitab”) begitupun sebaliknya. MUI beralasan, karena kerusakan yang ditimbulkan dari pernikahan antar agama itu lebih besar dari pada kebaikan yang akan diperoleh.

Tetapi kemudian masalahnya adalah masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang plural; baik dilihat dari sisi agama, suku, ras dan klas, dimana ruang interaksi lintas golongan terbuka lebar yang dapat berlanjut kepada sebentuk perkawinan. Dan memang nyatanya, gejala menikah lintas agama terus berlangsung di Indonesia meskipun Undang-Undang Perkawinan melarangnya. Banyak cara yang dipakai, ada yang menikah di luar negeri, ada yang menikah dengan cara salah satu agama, kemudian masing-masing kembali ke agama asal, atau ada yang menggunakan kedua cara agama yang mereka anut. Tetapi intinya, dalam praktek semacam itu (menikahnya pemeluk agama yang berbeda), tetap ada “sesuatu yang terpasung”, tetap ada “kegelisahan yang menggumpal”. Sayangnya, fenomena seperti ini jarang sekali muncul ke permukaan secara frontal karena sifat sensitif praktek ini.

Padahal dalam perspektif sejarah, hampir di setiap agama ada yang mempraktekkan pernikahan antara agama. Dalam Islam misalnya Nabi Muhammad pun pernah menikah dengan perempuan Yahudi bernama Shophia dan Maria Qibtiya yang Kristen. Bahkan kalangan sahabat dan tabi’in juga melakukannnya. Misalnya Usman bin Affan kawin dengan Nailah binti Quraqashah al-Kabiyah beragama Kristen, Thalhah bin Ubaidillah dengan perempuan Yahudi di Damaskus. Huzaifah kawin dengan perempuan Yahudi di Madinah, begitupun Ka’ab bin Malik dan Al-Mughiroh bin Syu’bah menikah dengan perempuan Ahli Kitab.[12]

Hukum perkawinan antaragama menjadi persoalan yang pelik dan kontroversial di kalangan fuqaha’ mulai dari ulama madzhab hingga pemikiran hukum selama ini.[13] Pro-kontra seputar perkawinan antar agama tersebut disertai pula dengan argumentasi masing-masing pihak, mulai dari argumentasi psikologis, hukum dan yang paling mewarnai adalah masalah keyakinan terhadap tafsir agama. Dalam perkembangannya, semakin kelihatan bahwa perkawinan sebagai peristiwa hukum, tidak semata-mata berada pada wilayah hukum. Ia sesungguhnya masuk dalam wilayah yang cukup luas, mendalam dan bahkan abu-abu, menukik pada keyakinan yang bersandar dari banyak aspek (psikis, religius, budaya, ekonomi dan sebagainya).[14] Bagi banayk pihak, perkawinan mungkin adalah hal yang wajar, sederhana dan sedemikian adanya, sebagai fitrah manusia. Namun, bagi pihak lain, proses tersebut tidak sesederhana sebagaimana yang tampak dari luar. Begitu komplek proses menjadi kawin, beragam pula masalah yang muncul.  Setelah melewati berbegai prosesi, akhirnya hukumj pun harus melegalkan atau bahkan bisa tidak melegalkan sebuah perkawinan.

Mengenai hal ini, hukum perkawinan antaragama di Indonesia telah diundangkan dalam Undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan.[15] Menurut Pasal 2 ayat 1 dalam undang-undang tersebut, dinyatakan bahwa “perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu”. Kemudian pasal 2 ayat 2 dinyatakan bahwa tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Peran pemerintah hanya sejauh melakukan pencatatan nikah. Dalam masyarakat ternyata ayat ini menimbulkan berbagai macam penafsiran, karena ada yang memahami bahwa dua ayat tersebut bersifat alternatif dan ada yang memahami sebagai kumulatif. Akan tetapi dalam prakteknya, kedua ayat tersebut berlaku kumulatif, artinya kedua-duanya harus diterapkan untuk persyaratan sahnya suatu perkawinan.[16]

Secara konseptual, hukum perkawinan antaragama diperoleh dari pemahaman dan rumusan ayat yang berkaitan dengan “orang lain”, konsep iman, Islam, Kufr, Ahli Kitab dan Musyrik.[17] Sebab dengan ayat-ayat tersebut, al-Qur’an memberikan inspirasi terhadap pola hubungan termasuk di dalamnya, perkawinan antara umat Islam dengan umat agama lain. Secara khusus, kedua hal tersebut dijelaskan al-Qur’an QS. al-Baqarah; 221 dan QS. al-Maidah; 5[18] namun dalam kenyataannya, ayat-ayat tersebut –meminjam bahasa Arkoun-[19] melahirkan tumpukan literatur, korpus resmi penafsiran ulama’ yang menyerupai lapisan genealogis bumi.

Dari sederet mufassir kontemporer yang mempunyai perhatian besar terhadap wacana pluralisme agama, Dr. Farid Esack adalah salah satunya. Selain dikenal sebagai seorang pakar tafsir dari Afrika Selatan, ia juga disebut sebagai aktifis HAM, dan sering dicap sebaga salah seorang pemikir Islam liberal.

Dengan menggunakan analisa hermenutika pluralisme agama[20] yang secara kritis dikaitkan dengan perjuangan pembebasan rakyat Afrika Selatan, dapat dikatakan bahwa figurasi konsepnya secara genetis lahir karena adanya kesalinghubungan antara konteks religio-sosial-politik Afrika Selatan yang dipenuhi dengan hingar-bingar penindasan dengan visi teks al-Qur’an yang “mewartakan” tema pembebasan yang kemudian memunculkan format penafsiran baru (kontekstual) dalam kerangka lingkaran hermenutika.[21]

Konteks penindasan di Afrika Selatan yang multikultur dan multireligius, mendorong Farid Esack melakukan terobosan baru dengan melakukan rekonstruksi pembacaan terhadap teks al-Qur’an melalui hermeneutika al-Qur’an tentang pluralisme agama. Matrik persoalan utama yang ia kaji adalah meninjau ulang kategori teologis tentang kawan dan lawan[22] yang berakar pada perjuangan demi kebebasan dari eksploitasi ekonomi, ketidakadilan politik, penindasan kaum perempuan dan diskriminasi rasial yang dialami oleh sebagian besar rakyat Afrika Selatan.

Hal utama yang mendorong Farid Esack memunculkan pembacaan hermeneutika terhadap al-Qur’an, karena dalam banyak hal, ia melihat, penderitaan yang dialami rakyat Afrika Selatan seringkali dilakukan atas nama agama dan terkadang dengan dukungan kitab suci. Dalam kondisi seperti ini, al-Qur’an tak ubahnya beraplikasi ganda; praktis dan politis[23], maka terciptalah struktur masyarakat Afrika Selatan yang rasis-eksploitatif. Proses ini berjalan mulus karena peran paradog agama yang dengan mudah dijadikan alat kekuasaan. Mengingat begitu sentral dan pentingnya fungsi agama di mata masyarakat Afrika Selatan, maka menurut Farid Esack, untuk dapat melakukan perubahan yang radikal dan fundamental, diperlukan sebuah reinterpretasi konstruktif terhadap wacana dan peran agama sebagai motor penggerak lahirnya pembebasan bagi rakyat Afrika Selatan.[24]

Dalam eksplorasinya, Farid Esack memulai dengan mendefiniskan makna teologi pembebasan.[25] Untuk usaha tersebut, Farid Esack memberikan kunci-kunci pemahaman sebagai perangkat untuk memahami Qur’an, terutama bagi suatu masyarakat yang diwarnai penindasan dan perjuangan antariman demi keadilan dan kebebasan. Kunci-kunci pemahaman tersebut adalah seputar takwa dan tauhid, Al-nas dan al-mustad’afuna fi al-ardh, serta Keadilan (‘adl dan qisth) dan perjuangan (jihad). Salah satu manifestasi dan konsekuensi meningkatnya kekakuan teologi Islam adalah pembakuan konsep diri sendiri (self) dan orang lain (the other) seperti iman, Islam dan kufr. Lebih lanjut ia mengapresiasi labelisasi penganut agama lain (Ahli Kitab dan Musyrik) yang disinyalir al-Qur’an dalam konteks yang lebih luas, baik menyentuh persoalan yang sakral maupun profan.[26] Dengan kata lain, istilah-istilah ini tak lagi dipandang sebagai kualitas yang dapat dimiliki individu, kualitas yang dinamis dan beragam intensitasnya sesuai dengan tahap-tahap dalam hidup individu itu. Bahkan, istilah-istilah ini kini dipandang sebagai kualitas yang tertanam dalam kelompok, sebagai pagar karakteristik etnis. [27]

Rangkaian hermeneutikanya mencoba mengelaborasi universalitas interpretasi konteks historis Nabi dengan segala lokalitas-spatiotemporal ke dalam wilayah pembacaan kontekstual pluralisme Afrika Selatan. Ia mengingatkan sikap al-Qur’an terhadap penganut agama lain sebagai wadah solidaritas kaum tertindas dalam menegakkan keadilan. Pada akhirnya Esack secara sinergis mewacanakan hermeneutika pluralismenya sebagai pengembangan paradigma teologi pluralisme Islam dalam kerangka praksis-liberatif.

Bagi Esack, konteks pluralisme agama bukan lahir dari komitmen samar dengan segala bentuk keberagaman. Karena justru, al-Qur’an terkadang secara tegas menentang sekat perbedaan itu dan mendorong sikap oposisi terhadap mereka. Dalam pandangan Esack, al-Qur’an mengakarkan pluralismenya dalam rangka perjuangan melawan segala bentuk penindasan dan ketidakadilan. Bukan semata-mata lahir dari rahim dialog antar agama (inter-religious dialogue) seperti yang digagas oleh berbagai kelompok keagamaan dewasa ini. Dengan kata lain, menurutnya, pluralisme yang dinyatakan al-Qur’an sejatinya berbasiskan praksis-liberatif.

Untuk mendownload silakan klik link di bawah ini

Download di sini

Skripsi Tafsir Hadis 1, 5.0 out of 5 based on 24 ratings
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Copyright Notice: Skripsi-skripsi yang dipublikasikan di Pustakaskripsi.com adalah skripsi dengan lisensi boleh dipublikasikan dengan pernyataan Copyright sebagai berikut:
Copyrights : Copyright (c) <Universitas Penerbit>. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Jika anda adalah penulis atau penerbit skripsi ini dan merasa tidak menerbitkan lisensi tersebut, dan merasa keberatan skripsi anda dipublikasikan, silahkan menghubungi admin di admin [at] pustakaskripsi.com. Kami akan dengan senang hati meng-unpublish Skripsi anda.

Sebarkan Ilmu walaupun hanya satu Ayat. Ilmu yang kau bagikan kepada orang lain maka akan semakin bertambah dan berkah.

Leave a Comment

Receive all updates via Facebook. Just Click the Like Button Below

Powered By Blogger Widgets